CIAO INDONESIA

Selasa, 22 Februari 2011

TENTANG ALAM

PEDULIKAH AKU AKAN HARMONI LINGKUNGAN HIDUP?

Pengantar

Dewasa ini, motif-motif penghancuran alam lebih dikarenakan alasan ekonomi. Manusia sebagai pelaku bisnis ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dengan memanfaatkan alam. Alasan-alasan rasional seringkali digunakan untuk membendung arus protes mereka yang mengusung tema go green . Bukan tidak mungkin bumi ini akan semakin kehilangan makna sakral sebagai ciptaan Tuhan yang indah. Alih-alih menjadi tempat tinggal yang nyaman, bumi semakin kehilangan identitasnya sebagai tempat kehidupan bagi setiap ciptaan. Demi keuntungan ekonomis dan pembangunan yang hanya identik dengan gedung-gedung tinggi, ekologi dihancurkan hanya untuk pembangunan yang tidak memperhatikan keramahan terhadap lingkungan tempat kita tinggal.

Berhadapan dengan persoalan yang sedemikian rumit, setiap orang ditantang untuk menentukan disposisi dirinya. Ia dituntut untuk berani bertindak, bukan hanya membela tempat tinggalnya sendiri, juga bukan pula menghindarinya dengan lari kepada dunia “yang akan datang”, melainkan bertanggung jawab atas bumi tempat berpijak. Tanggung jawab perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan ini. Masihkah kita berani mengklaim bahwa diri kita adalah orang beriman dengan merusak lingkungan dan diam tatkala bumi tempat untuk tinggal itu rusak perlahan-lahan? Apakah iman itu dapat berkembang kepada pengalaman akan Allah? Pertanyaan ini menggugah kesadaran kita bahwa kita tidak boleh berpangku tangan. Bumi adalah bagian dari diri kita. Tanpa adanya lingkungan hidup yang memadai, kita kehilangan bagian diri kita yang penting. Satu-satunya yang jelas saat ini adalah kita bertanggung jawab atas rusaknya lingkungan hidup kita dari pemusnahan ‘diam-diam’.

Beriman tidak bisa dilepaskan dari bertindak untuk menyelamatkan lingkungan hidup kita. Beriman tidak hanya sebatas pada soal ritual di ruang peribadatan, tetapi juga menyangkut melestarikan alam dan lingkungan hidup. Ini didasari pada hubungan antara Sang Pencipta yang menciptakan alam dan tugas kita sebagai ciptaan untuk melestarikan serta merawatnya. Sehingga, kita pantas mengajukan pertanyaan, apakah nurani kita masih mengingatkan kita akan dampak-dampak pengrusakan lingkungan yang kita timbulkan? Jika kita masih memalingkan muka, itu tandanya kita tidak mampu lagi untuk menaruh perhatian pada kenyataan hidup bahwa alam membutuhkan pembaruan. Usaha kita untuk beriman di tengah lingkungan hidup seakan mati dan tidak menghasilkan kebaruan apapun.

Ekologi dan persoalan lingkungan hidup

Istilah ‘ekologi’ terbentuk dari dua kata dasar Yunani, yaitu oikos (rumah, tempat tinggal) dan logos (kata, uraian). Secara harfiah, ekologi berarti penyelidikan tentang organisme-organisme dalam jagat raya. Ekologi juga memuat definisi yang bervariasi, sehingga kita tidak perlu melihat secara keseluruhan. Meski demikian, baiklah kita melihat satu definisi yang jelas. Ekologi dapat dirumuskan sebagai ilmu atau studi tentang organisme dalam hubungan dengan seluruh lingkungan hidup. Ekologi berusaha menyoroti, menganalisis, dan memajukan seluruh unsur dalam alam semesta.[1]

Ekologi bertanggung jawab untuk memberikan solusi bagaimana membuat lingkungan hidup ini menjadi hunian maupun tempat tinggal yang asri. Namun yang terjadi ternyata kebalikannya. Manusia belum mampu untuk memaksimalkan peran ekologi dalam melindungi lingkungan hidup ini. R.E. Suryaatmaja menulis demikian, “Perhatian terhadap SDA dalam bentuk air, tanah, udara, tumbuh-tumbuhan, seharusnya berada dalam domain ekologi. Tetapi sayang, orang-orang ekologi (dan juga orang-orang ekonomi) yang memperhatikan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan air, tanah, melihatnya sebagai kebutuhan untuk menunjang ekonomi. Mereka terlalu asyik mempelajari hubungan tersebut sehingga tidak bermakna ekonomi yang sesungguhnya.”[2] Kita bisa saja melihat ada hubungan antara kenyataan bahwa kita harus menaklukan alam demi kehidupan manusia, tetapi lantas kita tidak bisa seenaknya memperlakukan alam sekehendak hati kita. Ini tidak sinkron dengan iman yang kita hayati.

Kenyataan ini membelalakan mata kita. Tidak saja karena kita telah merusak lingkungan, tetapi juga karena kita tidak mampu untuk menanggulangi persoalan ini. Lantas, bencana alam pun tidak dapat dihindarkan lagi. Banjir, tanah longsor, kekeringan, wabah penyakit dan seterusnya. Akibat yang paling mencolok adalah bahaya kelaparan. Ini adalah sebuah kontradiksi atas pernyataan bahwa negeri kita ini subur dan berlimpah akan hasil alam. Namun kenyataanya, banyak penduduk yang masih menderita kelaparan. Aloys Budi Purnomo menulis demikian, “Ketika kebutuhan pokok akan pangan terancam, masihkah bangsa kita tetap beriman kepada Allah? Benarkah krisis pangan dapat menyebabkan inkonsistensi religius? Dapatkah yang terjadi sebaliknya, rakyat makin beriman kepada Allah apapun agamanya?”[3]

Kita bertanggung jawab atas lingkungan hidup

Iman yang dihayati dalam hidup seringkali memuat gagasan penting bagi kelangsungan alam dan hidup kita sehari-hari. Tidak dapat dipungkiri bahwa alam menjadi tempat kita tinggal, dan tempat kita melangsungkan kegiatan keimanan kita. Alam yang indah mencerminkan kekayaan iman yang terpancar. Alam menjadi tempat untuk berefleksi tentang keagungan Allah yang terpantul dalam misteri alam.

Lemahnya kesadaran kita terhadap lingkungan hidup juga terjadi karena adanya anggapan yang memandang bahwa pemanfaat alam bagi manusia itu adalah hal yang “wajar”.[4] Pernyataan ini menimbuilkan ketidakharmonisan antara iman yang kita hayati dengan lingkungan yang kita tinggali. Letaknya di sini, yakni ketidakpedulian kita akan kondisi lingkungan menjadikan kita apatis. Kita bersikap seolah membiarkan saja kenyataan ini tanpa melihat akibatnya dalam jangka panjang.

Sudah seharusnya kita mampu melihat kembali makna kedalaman iman kita. Beriman tentu bukan soal menggunakan dan menghabiskan kekayaan alam, tetapi juga mampu untuk merawat dan melestarikan. Sekarang, kita perlu untuk membuka diri kita, sudah sejauh mana iman itu berhasil kita padukan dengan menjaga lingkungan. Jika tidak, mungkin hati kita sudah tumpul dan tidak mampu lagi mendengar jeritan lingkungan yang rusak dan mereka yang menjadi korban bencana alam karena kecerobohan kita.



[1] Dr. William Chang, OFMCap, Moral Lingkungan Hidup, (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm.13-14.

[2] Dr. R.E. Suryaatmaja, “Peta dan Masalah Dasar Ekologi”, dalam Iman Ekonomi dan Ekologi refleksi lintas ilmu dan lintas agama, J.B.Banawiratma, SJ, dkk. (Eds.), (Yogyakarta: Kanisius, 1996), hlm. 39.

[3] Aloys Budi Purnomo, “Agama, Rakyat, Nasi, dan Peran Petani”, dalam Membangun Teologi Inklusif-Pluralistik, (Jakarta: Buku Kompas, 2003), hlm. 40.

[4]http:// herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id/.../herwnlingkungan-dlm-kajian-etika-dan- moral.doc, diakses tanggal 17 Desember 2010.

PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH

Pengharapan anak-anak Allah (Roma 8:18-25)

Seorang TKI pergi merantau ke luar negeri untuk mencari penghasilan yang layak. Tentu saja, dia menginginkan bahwa suatu saat dia akan pulang dengan membawa sejumlah uang yang banyak. Dia tidak peduli meski mendengar banyak berita tentang kekerasan yang dialami para TKI di tempat kerja. Ia bertekad untuk tetap pergi karena kondisi keuangan yang mendesak. Harapan untuk mengubah nasib menjadi lebih baik begitu besar tertanam dalam hatinya. Ia sudah siap apabila di sana, ia akan mendapat hukuman asal ia bisa mewujudkan keinginannya. Dia sungguh percaya bahwa suatu saat harapannya itu akan terwujud.

Setiap manusia mengharapkan segala sesuatu yang terbaik, yang membahagiakan, yang menggairahkan dan mengesankan. Dalam hidupnya, jarang seseorang mengharapkan sesuatu yang buruk tentang hidupnya. Ada banyak harapan yang sudah dibuat ketika kita menginjak awal tahun yang baru. Kita berdoa dengan sepenuh hati agar Tuhan senantiasa memberkati setiap usaha kita. Ada yang mengharapkan mempunyai komitmen baru untuk menjadi lebih sabar, ada yang membuat komitmen untuk menjadi orang baik, bahkan ada yang berkomitmen untuk menjadi manusia yang baru. Belum lagi yang mengharapkan sesuatu yang berkaitan dengan hal-hal lahiriah. Bagaimanakah dengan harapan kita, apakah sudah terwujud, ataukah harapan itu tinggal sebagai harapan saja?

Harapan seringkali tidak mudah diwujudkan dengan kenyataan yang sesungguhnya. Harapan sudah tidak mempunyai gema lagi karena orang menutup mata terhadap kenyataan hidup yang sesungguhnya. Biarpun demikian, harapan tidak bisa musnah. Kita bisa melihat bagaimana orang-orang sudah tidak menghargai lagi kejujuran dan kebaikan. Orang mudah berlaku curang untuk menutupi kesalahan. Buat apa berharap di tengah ketidakpastian, ketidakjujuran, kemunafikan? Pada zaman sekarang ini, banyak harapan kosong yang ditawarkan oleh dunia. Harapan yang penuh dengan janji-janji palsu bermunculan di mana-mana. Orang-orang yang sibuk menarik simpati dan perhatian, cenderung menebarkan harapan dan janji kosong. Demikian pula, mereka yang mengandalkan diri sendiri. Misalnya saja, orang seringkali mengandalkan diri pada materi yang dimilikinya. Orang tidak sadar bahwa kekayaan materi tidak mampu menyelamatkan hidup manusia. Inikah yang kita inginkan? Tentu saja tidak.

Kita memerlukan harapan yang sesungguhnya. Harapan ini tidak ditawarkan oleh dunia, karena dunia tidak pernah rela tapi selalu bersyarat. Harapan satu-satunya hanya kita sebagai orang beriman berasal dari Tuhan sendiri. Justru inilah tantangan yang harus dijawab oleh kita. Kita harus menghadirkan pengharapan yang melampaui saat ini. Kita mewartakan pengharapan yang berdasarkan pada Tuhan Yesus yang menebus dosa manusia. Karena dosalah, manusia semakin terbelenggu dalam keinginan-keinginan lahiriah dan dangkal.

Harapan tidak bisa dipisahkan dari iman. Iman dan harapan menjadi semacam dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga di mana ada iman, di situ harapan muncul. Harapan meneguhkan iman dan membuat setiap keyakinan semakin menemukan tempatnya. Sedangkan iman menjadikan harapan kita bertumbuh. Kita yang saat ini hadir mengimani bahwa Yesus Kristus yang telah datang ke dunia akan membawa harapan tentang penebusan kita dari dosa.

Kita hidup dengan harapan-harapan kecil yang setiap hari kita hidupi. Misalnya, saya ingin mendapat nilai yang baik, saya dapat mengatur waktu dengan baik, saya dapat mengembangkan diri saya, saya ingin menjadi pribadi yang rendah hati, dan lain sebagainya. Pada intinya, setiap waktu kita ingin selalu memperbaiki hidup kita. Persoalannya ialah apakah kita serius untuk mendengarkan hati kita yang sedang berbicara? Dalam komunitas ini, apakah kita sudah mampu mendengarkan sesama kita? Harapan kecil membuat kita semakin berarti saat kita menjalani hidup tanpa makna, kita mencoba bangkit saat kita jatuh. Kita meyakini bahwa selalu ada jalan keluar. Harapan kecil itu tumbuh bersama dengan keyakinan diri kita bahwa kita adalah pribadi yang unik. Kita juga mengarahkan pandangan dengan harapan-harapan besar kelak. Harapan saat ini sangatlah menentukan bagaimana kita kelak akan melangkah. Sebuah langkah kecil sungguh menentukan langkah kita selanjutnya.

Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,

Harapan kita akan Yesus Kristus haruslah senantiasa kita perlihara dalam kehidupan kita. Sebagai anggota komunitas, sudah selayaknya kita mempunyai padangan ke depan, terarah pada misi yang diberikan oleh Yesus kepada kita. kita tidak hanya hidup bersama, tetapi mengakui bahwa hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus dan dibimbing oleh tangan Bunda Maria. Roh Kudus menjaga dan mendampingi setiap karya kita dan kita juga percaya bahwa Bunda Maria mengarahkan kita dengan kasih keibuannya.

Bacaan yang telah kita dengarkan bersama mengarahkan kita bahwa harapan kita sebagai umat Kristen selalu berpusat pada Kristus. Bersama Kristus, kita diangkat menjadi anak-anak Allah yang akan menerima warisan hidup yang kekal, hidup bersama Kristus selamanya. Pengharapan ini membutuhkan ketekunan setiap hari, entah dalam situasi yang menguntungkan maupun tidak menguntungkan. Kita berharap dalam situasi yang terkadang tidak pasti dan di saat-saat seperti inilah iman kita dimurnikan untuk tetap berpegang teguh kepada Allah saja. Kita tentu saja mengalami kesulitan untuk terus bertahan, andaikata kita tetap mengandalkan diri sendiri. Tetapi, kekuatan kita sesungguhnya berasal dari Tuhan. Kita tidak bisa mengandalkan kelebihan kita saja, kita perlu Tuhan agar menguatkan kita dalam peziarahan hidup kita. Maka, marilah kita setiap saat mencoba hadir bersama Allah dalam doa dan pengharapan untuk menatap masa depan. Semoga.

Senin, 13 Desember 2010

ketika hidup menjadi sulit

kita tidak bisa menyangkal bahw hidup terkadang sulit untuk dijalani. seperti sekarang ini, aku menjadi bingung karena ujian sedang berlangsung. aku menjadi begitu bodoh. tak mampu berbuat yang terbaik untuk diriku sendiri. aku hanya ingin berbuat yang terbaik untuk diriku hari ini. tapi jalan untuk menuju ke sana kian terjal. aku tidak menemukan jalan setapak yang biasa kudapati. hanya kekosongan, kehampaan, dan kekeringan hati. aku tidak dapat melihat kebaikan di sana

Kamis, 02 Desember 2010

Natal semakin dekat

pengantar

Apa yang terbayang dalam hati kita saat membayangkan Natal kembali tiba? Membuat kartu untuk orang-orang tercinta? Mencari sesuatu yang spesial bagi diri sendiri? Semua itu sungguh menyenangkan. Apalagi hari raya Natal merupakan suatu moment yang sungguh indah bagi kita. Tapi, sungguhkah itu menjadi prioritas yang terpenting dalam hidup kita? Tak mudah menjawab persoalan ini dengan hanya menjawab sepintas lalu. Bukankah kecenderungan kita untuk menjadikan hari yang spesial ini sebagai waktu untuk menyenangkan diri dan orang-orang yang kita cintai? Natal adalah kegembiraan kita karena menyambut Yesus yang dinanti-nantikan oleh semua orang yang merindukan Dia.

Natal sebentar lagi kita rayakan dalam kemeriahan perayaan ekaristi. Di sana, kita akan mengenangkan kembali peristiwa kelahiran Yesus yang sungguh sederhana. Perayaan ekaristi ini menjadi moment yang menandakan bahwa kita ikut ambil bagian dalam peristiwa agung nan sederhana ini. Kita secara bersama-sama bersatu dan berbagi dalam kegembiraan. Mungkin kita hanya berbeda dalam perasaan, karena kondisi diri kita yang mungkin sedang tidak mood untuk mengikuti misa atau karena ada persoalan yang belum diselesaikan. Namun, satu yang perlu kita siapkan adalah hati yang bersih, hati yang gembira, untuk menyambut kedatangan sang penyelamat yang lahir dalam rupa bayi mungil di palungan.

Tantangan zaman

Zaman kita dikatakan telah mengalami kemajuan. Kemajuan dalam hal apa? Banyak, tergantung dari perspektif mana kita melihatnya. Jika kita mengatakan bahwa segala fasilitas yang kita miliki sudah membantu kita untuk bertumbuh, itu baru dikatakan sebagai kemajuan. Tetapi banyak dari kita merasakan bahwa segala fasilitas semakin membuat gaya hidup kita berubah. Semakin kita kehilangan orientasi untuk melangkah. Kita mengalami keterasingan yang mendalam karena kita semakin asyik dengan dunia kita sendiri. Kita bahkan semakin tenggelam dalam kenyamanan dan keegoan kita.

Saat kita mulai mengalami kebosanan dan keterasingan, di saat itulah kita mulai menyadari bahwa kita telah digiring pada suatu wilayah ‘yang lain’. Kita terseret dalam dunia yang hanya mengejar mimpi-mimpi kosong, mimpi-mimpi yang menutup diri kita. Kita tidak lagi terbuka dengan orang-orang di sekitar kita. Suatu keadaan yang terbalik. Saya katakan terbalik karena kita tidak mengenali keberadaan kita. Kita adalah makhluk yang membutuhkan orang lain untuk hidup, ada, dan menjalani kehidupan yang tak pasti ini.

Bayi Yesus yang dilahirkan dalam kesederhaan, mungkinkah itu mampu mencelikkan mata kita bahwa kita sesungguhnya dilahirkan dari orang yang menyayangi kita. Bayi Yesus merasakan kehangatan dan kasih sayang dari ibunya. Ia tidur dalam belaian lembut Maria. Dia tahu bahwa kasih sayang menyejukkan dan menenteramkan. Kita pun dulu pernah merasakan demikian, hanya saja ingatan kita yang terbatas tidak mampu untuk mengembalikan memori indah itu.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa ada sekian bayi yang tidak bisa mendapatkan kasih sayang ini. Jika kita pernah membaca sebuah berita yang sangat mengenaskan dan menimbulkan kesedihan yang mendalam tentang aborsi di Thailand, kita pasti akan mengamini fakta ini. Bahwasanya manusia semakin sulit untuk mendapatkan kasih sayang. Bayangkan lebih dari dua ribu bayi yang tak bersalah harus melayang jiwanya. Inikah tanda bahwa manusia semakin menemukan dan mencintai dirinya ataukah manusia yang karena perbuatannya berusaha keluar dari persoalan hidupnya dengan menghalalkan segala cara? Di mana keadilan Tuhan? Di mana nurani para ibu? Di mana rasa kasih sayang para ibu yang telah mengandung mereka? Apakah mereka lantas membiarkan mereka mati bagaikan tak pernah ada? Pertanyaan ini tidak mudah untuk dijawab. Pertanyaan ini muncul begitus saja akibat sisi afektif kita yang tersentuh. Kejahatan selalu menjadi kekurangan dari sebuah kebaikan. Kebaikan menjadi terpecah dan tidak pernah utuh kembali. Citra Allah terkoyak.

Momen Natal menjadi tidak utuh tanpa kehadiran manusia yang mengalami kedamaian. Kedamaian yang seringkali dicari oleh manusia hanya dicari di luar dirinya. Ia melekatkan diri pada kedamaian yang ditawarkan oleh dunia. Sekali lagi kita pantas bertanya, kedamaian macam apa yang mau ditawarkan kepada dunia? Selalu dan selalu jawabannya adalah kedamaian yang bersyarat. Kedamaian yang harus dibayar dengan mahal demi mengalaminya. Hal yang demikian sangat kontras dengan peristiwa Natal. Natal adalah saat untuk mengkondisikan diri kita kembali ke dimensi terdalam hidup kita, bahwa Tuhan yang agung mau hidup sebagai manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Pada saat itulah kita seharusnya menjadi sadar bahwa Tuhan sungguh-sungguh merasakan penderitaan kita dan menjadi senasib dengan kita. Ia tahu segala kelemahan dan kekurangan, tahu apa itu kemiskinan, dan kepapaan. Ia tidak berdaya dan hanya menggantungkan diri pada Maria dan Yosef.

Bayi Yesus menyadarkan kita bahwa dengan menyandarkan diri pada sang bunda, Yesus menjadi aman. Demikian pun sang bunda, ia mempunyai ikatan batin erat dengan sang putra. Sang bunda yang selalu mencintai buah hatinya dengan segala keadaanya. Tanpa syarat dan pamrih.

Makna kelahiran

Baiklah kalau kita sejenak membaca pernyataan atau lebih tepatnya sebuah puisi seputar makna di balik kelahiran Yesus:

Mengapa Aku dilahirkan?

Aku dilahirkan dalam sebuah kandang, supaya kamu dapat belajar untuk memandang suci semua tempat di manapun.

Aku dilahirkan miskin, supaya kamu dapat mengenal Aku sebagai sumber utama segalanya.

Aku dilahirkan lemah, supaya kamu tidak pernah boleh takut kepada-Ku.

Aku dilahirkan untuk mengasihi, supaya kamu tidak pernah boleh meragukan cinta kasih-Ku.

Aku dilahirkan pada malam hari, supaya kamu percaya bahwa aku dapat memberi terang kepada segala kenyataan hidup.

Aku dilahirkan sebagai manusia, supaya kamu tidak pernah boleh menjadi malu atas dirimu-sendiri.

Aku dilahirkan untuk diadili, supaya kamu dapat mengetahui bagaimana menghadapi kesulitan-kesulitanmu.

Aku dilahirkan dalam kesederhanaan, supaya kamu berhenti untuk menjadi bertingkah.

Aku dilahirkan sebagai bagian dari kehidupanmu, untuk membawa setiap orang ke rumah Bapaku ---Lamberto Noben---(Agustinus Sarwanto: 2003)

Puisi indah di atas sesungguhnya menggambarkan bagaimana makna kelahiran Yesus bagi kita di zaman ini. Penulis buku tersebut menyentuh sisi kemanusiaan kita. Kita yang seringkali mengeluh dan cenderung kurang menerima kenyataan diri kita apa adanya. Dengan demikian, kita diajak untuk kembali kepada keluhuran pribadi kita sebagai manusia baru oleh karena kelahiran Yesus bagi penebusan dosa kita. Dan akhirnya, kita diajak untuk memahami bahwa kelahiran Yesus juga membawa kita kembali ke rumah Bapa. Menjadi orang yang sempurna.

Kelahiran selalu merupakan perayaan atas anugerah Allah. Dikatakan sebagai perayaan menunjuk pada bagaimana Allah sesungguhnya berkarya dengan penuh misteri dan keajaiban yang tak terkatakan. Misteri ini menjadi kegembiraan yang selalu dikenang oleh setiap orang. Setiap kita selalu mengenang setiap kelahiran kita masing-masing, misalnya tanggal saat kita lahir ke dunia. Namun sejauh kita menyadari, ada banyak manusia yang justru enggan untuk mengenangnya sebagai anugerah Allah. Mereka serentak mencemooh kelahiran akibat banyaknya penderitaan yang timbul. Untuk apakah aku dilahirkan, jikalau aku hanya merasakan penderitaan di dunia ini? Lebih baik aku mati saja daripada menderita. Kita bisa melihat bagaimana penderitaan menutup mata dan hati mereka akan secercah kebaikan. Justru, mereka terlempar dan terjerumus dalam lembah kenyataan hidup yang pahit dan tidak lagi merasakan kebahagiaan dalam kelahirannya. Lahir dan mati bagaikan dua pintu yang sewajarnya harus dilalui manusia yang tertutup tanpa mampu melihat karya Allah di dalamnya.

Kelahiran kita sesungguhnya membawa misi yang telah ditentukan Allah sebagaimana perjalanan hidup nabi Yeremia. “Sejak dalam kandungan…Aku telah menguduskan engkau…dan menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” Ucapan ini mempunyai makna yang ilahi bahwa kelahiran kita ada untuk kemuliaan Allah. Kita diutus untuk menjadi ‘nabi’ bagi semua orang yang ada di sekitar kita saat ini dan di sini. Maka, kita perlu mengucap syukur atas anugerah Allah yang indah ini.

Natal untuk siapa?

Judul di atas saya ambil dari majalah Bergema edisi 76 tahun IX Oktober 2003. Saya tertarik dengan judul di atas karena judul itu menggambarkan pergumulan saya. Sebenarnya Natal itu untuk siapa? Untuk saya sajakah? Untuk orang-orang kristiani sajakah? Ataukah untuk semua orang yang merindukan kehadiran sang juru selamat? Pertanyaan ini sangat menggelitik hati saya karena kita memang selalu merayakannya. Tapi, makna yang terdalam dari perayaan ini seringkali kita lupakan.

Kitab Matius mencatat bahwa orang-orang yang diam di seluruh Yerusalem dan Herodes begitu tercengang dengan kedatangan orang-orang majus dari Timur. Mereka mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin mereka tahu bahwa seorang raja baru saja dilahirkan, padahal seluruh penduduk Yerusalem tidak mengetahuinya. Herodes yang merupakan antek Roma (kaum penjajah) menjadi gelisah karena kelahiran sang raja baru itu. Maka, kita tahu selanjutnya bagaimana mereka menjadi bingung. Tanpa banyak kata, penulis injil Matius kemudian menulis bahwa beberapa gembala domba yang sudah ada di sana. Orang-orang sederhana dalam masyarakat sosial Yahudi. Orang-orang dari Timur itupun juga menuju ke tempat Yesus dilahirkan dan menyembah Dia sambil mempersembahkan persembahan. Mereka melihat bayi Yesus yang akan menjadi seorang tokoh pembebas bangsa Yahudi dan seluruh manusia.

Natal selalu menjadi momen penting bagi kita saat ini. Maka sudah selayaknya kita menyiapkan hati kita untuk menjadi tempat kelahiran-Nya. Dia harus menjadi Raja atas diri kita. Dia memilih palungan yang menjadi tempat bagi makanan hewan. Hal ini menjadi cerminan bahwa Dia juga memahami bagaimana pun kodisi hati kita saat ini. Hati yang remuk redam, hati yang hancur maupun hati yang dipenuhi dengan kesombongan akan barang-barang material. Dia akan membuat hati kita menjadi suci dan bersih apabila kita mau membuka hati kita untuk Dia.

Penutup

Tanggal 25 Desember hampir dekat. Kita akan merayakannya dengan penuh kegembiraan karena Yesus yang menjadi penyelamat kita lahir. Sebagai satu komunitas, kita akan memiliki kesibukan yang amat besar, mulai menyiapkan dekorasi, koor, teks misa, acara rekreasi bersama dan lain-lain. Namun janganlah kita melupakan hal yang terpenting untuk menyiapkan hati kita masing-masing. Menyiapkan tempat yang terbaik untuk Tuhan yang lahir dalam hati kita. Masihkah di dalam hati kita tersedia ruang untuk bayi Yesus yang nyaman tanpa gangguan keegoisan kita sendiri atau kegaduhan hati kita? Mungkin kita sulit untuk mewujudkannya. Tuhan Yesus tahu bahwa kita masih belum mampu untuk menyiapkan semua itu dengan sempurna. Maka, Diapun rela untuk tidur dalam ruang yang kita sediakan, bahkan dalam palungan, tempat yang menurut kita tidak pantas.

Tuhan Yesus memahami setiap kita yang sungguh berusaha untuk menyambut-Nya. Hanya orang-orang ‘kecil’ dan tersingkir dari kegemerlapan dunia ini yang mampu menangkapnya, seperti halnya para gembala dan para majus. Mereka mampu menangkap peristiwa luhur itu dan datang ke sana. Mereka menyembah-Nya dan memberikan persembahan. Maka, kita pun diundang untuk datang, menyembah, dan menghaturkan persembahan terindah kita untuk Tuhan yang kita cintai. Semoga. Selamat Natal 2010.


Rabu, 23 Juni 2010

Senin, 14 Juni 2010

malam sepi malam sunyi

ketika hembusan angin malam mulai menerpa. aku tak sadar bahwa malam kian larut.
aku hanya merasakan dinginnya udara. ini menandakan bahwa keheningan mulai menyelimuti alam raya di mana aku berada.
oh Tuhan,
tolonglah aku dalam kegelapan malam
aku takkan sanggup untuk melepaskan diri dari kegalauan batinku yang kian tenggelam oleh kebisiongan dunia

all about Maria

cara mengenalkan Bunda Maria kepada segala umur
Sasaran:
Untuk orang tua:
1. Baik kalau diadakan doa Rosario sebagai bagian dalam doa-doa lingkungan. Hal ini dikondisikan bahwa umat ikut ambil bagian dalam doa bersama. Jikalau hal ini tidak bisa dilaksanakan, pemimpin dapat menggantinya dengan doa-doa bertemakan marial: litani, doa penyerahan kepada Bunda Maria, dll.
Untuk muda-mudi/dewasa:
1. Lebih baik diadakan acara sharing bersama. Namun sharing ini tidak harus diadakan setiap kali ibadat. Sharing dapat dilaksanakan dalam doa-doa lingkungan. Tema sharing menyangkut maria dan lebih dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari yang sederhana dan konkret. Jikalau ada kegundahan, pertanyaan, sanggahan, maupun ketidak setujuan, maka perlu diadakan diskusi sejauh hal itu berguna demi perkembangan iman umat. Sharing dimulai oleh frater, lalu dilanjutkan oleh umat yang ingin mengutarakan pengalamannya.
Untuk anak-anak:
1. Diadakan acara permainan dan menyanyi tentang lagu-lagu maria.
2. Diajari untuk berdoa salam maria, Rosario, peristiwa-peristiwa Rosario, dll.
3. Ibadat kreatif marial yang diperagakan oleh anak-anak.